7 Festival di Nusa Tenggara Timur untuk Menarik Wisatawan

Senin, Februari 12, 2018 | Beri komentar

Indonesia memang terkenal dengan banyaknya budaya serta pulau yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bekerja ekstra keras untuk memikat wisatawan asing dan Nusantara menikmati keindahan alam dan budaya NTT.

Upaya-upaya untuk mempromosikan keunikan alam, kampung tradisional, budaya, kain tenun NTT serta tari-tarian dan lain sebagainya sudah dilakukan oleh berbagai pihak, baik pihak swasta maupun pemerintah.

Sejalan dengan perencanan arah pembangunan yang memprioritaskan Provinsi NTT menjadi provinsi pariwisata dalam lima tahun kedepan maka 23 kabupaten dan kota di NTT harus gencar menata dan mendata obyek-obyek wisata untuk memikat wisatawan.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wagub NTT Josef Adrianus Nai Soi siap membawa NTT ke arah perubahan melalui pengembangan pariwisata yang mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat.

Jika masyarakat sudah memiliki pendapatan ekonomi keluarga yang tinggi maka masyarakat itu sejahtera. Salah satu daya dorong untuk menyejahterakan rakyat NTT adalah sektor pariwisata.


Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat akan diikuti oleh berbagai sektor lain, seperti sektor pertanian, perdagangan dan lain sebagainya. Hasil-hasil pertanian, seperti sayur-sayuran untuk kebutuhan wisatawan asing dan Nusantara harus bersumber dari alam NTT.

Saat ini Gubernur NTT sudah mencanangkan rumah penduduk dijadikan homestay layak huni dengan toilet yang bersih. Selain itu, gubernur juga menginstruksikan kepada bupati di 23 kabupaten untuk mempersiapkan lima festival khas daerah masing-masing setiap tahun.

Hal ini dijelaskan Wagub NTT Josef Adrianus Nai Soi saat membuka pesta Reba adat masyarakat Langa, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, Selasa (15/1/2019).



Wagub asal Kampung Langa ini menjelaskan, masyarakat NTT harus mulai menata rumah layak huni bagi wisatawan dengan toilet yang bersih. Uang dari wisatawan harus langsung diterima masyarakat NTT.


Untuk itu, masyarakat menyiapkan kamar yang standar agar wisatawan langsung menginap di rumah warga. Ini juga sekaligus wisatawan belajar tentang kehidupan masyarakat NTT.

“Selama ini segelintir orang yang menikmati kue pariwisata Nusa Tengara Timur. Ini yang harus ditata kembali. Pemerintah mengharapkan masyarakat seluruh Nusa Tenggara Timur mendapatkan keuntungan dari pariwisata yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Nusa Tenggara Timur menjadi destinasi unggulan wisatawan asing dan nusantara karena keunikan-alam dan budaya Nusa Tenggara Timur yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia,” katanya.



Wagub Nai Soi menjelaskan, ada tujuh festival di NTT yang sudah dikenal luas di luar negeri. Dari ujung barat Pulau Flores sampai di Pulau Lembata memiliki kekhasan masing-masing. Ketujuh festival ini sudah didata. Ketujuh festival ini sudah dilaksanakan atas inisiatif pemerintah setempat.


Ketujuh festival yang sedang gencar dipromosikan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Festival Menangkap Paus Secara Tradisional

Festival ini dilakukan masyarakat Lamalera di Kabupaten Lembata. Tradisi ini sudah dikenal luas oleh dunia internasional. Pemprov NTT akan menjadikan tradisi menangkap paus dengan alat tangkap tradisional menjadi ajang festival tahunan.



Festival ini harus dikemas dengan baik oleh pemerintah setempat dan koordinasi dengan Pemprov NTT. Pesan di balik tradisi masyakarat Lamalera ini adalah gotong royong, kerja sama, kerja keras dan persatuan bagi sesama masyarakat nelayan.


Selain itu ada pesan-pesan leluhur orang Lamalera yang selama ini tidak diketahui secara luas tentang syarat-syarat menangkap paus.

Saat tradisi itu dilaksanakan, terlebih dahulu ada ritual adat yang ramah lingkungan serta dilakukan perayaan misa oleh seorang imam di sebuah gereja kecil di perkampungan Lamalera.

Bahkan, hanya jenis paus tertentu yang bisa ditangkap dengan perahu tradisional. Jadi saat menangkap paus dengan alat tangkap tradisional tidak mengganggu keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

2. Perayaan Semana Santa

Perayaan Semana Santa yang sudah berusia ratusan tahun di Kabupaten Flores Timur. Setiap perayaan Jumat Agung, warga dunia datang untuk mengikuti prosesi itu untuk mengenang wafat Tuhan Yesus Kristus sesuai dengan kepercayaan Agama Katolik.



Momen sakral ini dikembangkan dan dikemas agar warga dunia yang mengunjungi Kabupaten Flores Timur menginap di rumah warga setempat. Prosesi itu dijadikan festival sakral sesuai dengan kepercayaan orang Katolik dan bekerja sama dengan lembaga gereja setempat.


Orang-orang lokal di Kabupaten Flores Timur harus mendapatkan pendapatan ekonomi dengan menjual produk-produk lokal serta berbagai jenis makanan tradisional yang sesuai standar kebersihan.

3. Festival Tenun Ikat Sikka

Festival ini digelar di Kabupaten Sikka. Kain tenun khas Flores selain dipromosikan di dalam negeri juga luar negeri. Beberapa tahun lalu ada festival 1.000 penenun untuk menenun kain tenun ikat sikka di salah satu lapangan di pusat Kota Maumere.



Banyak pegiat dan perintis kain tenun ikat sikka dilakukan lembaga swasta di Kabupaten Sikka. Bahkan ada seorang perempuan Sikka yang sudah mengeliling 40-50 negara di dunia ini untuk mempromosikan keunikan kain tenun ikat Sikka.



Untuk itu festival ini ditingkatkan secara massal dengan festival tenun ikat sikka dengan melibatkan 1.000 lebih penenun dari kampung-kampung di seluruh Kabupaten Sikka di tahun ini atau tahun yang akan datang. Pemprov NTT siap membantu penyelenggaraan festival ini.

4. Festival Kelimutu

Festival danau tiga warna Kelimutu di Kabupaten Ende setiap tahun dilaksanakan. Festival ini dikemas dan ditingkatkan dengan kreativitas baru yang memikat dan menarik wisatawan asing dan Nusantara.



Keunikan warna danau Kelimutu serta tradisi-tradisi menjaga danau itu yang dimiliki masyarakat setempat menjadi daya tarik tersendiri.


Selain itu, ada situs Bung Karno di Kota Ende sebagai situs sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, dimana dari Kota Ende lahirlah lima butir Pancasila yang direnungkan Bung Karno saat diasingkan.

5. Festival Reba Ngada

Festival ini digelar di Kabupaten Ngada. Masyarakat Langa di Kabupaten Ngada sudah menetapkan bahwa setiap 15 Januari dilakukan pesta Reba. Untuk itu Ritual Reba tahun 2020 harus lebih massal lagi dengan menghadirkan seluruh rakyat Ngada.



Warisan leluhur orang Ngada dengan makan Uwi (ubi) tidak ada ditempat lain di Indonesia, hanya ada di Kabupaten Ngada.


Uwi merupakan makanan pokok orang Ngada sebelum mengenal nasi. Untuk itu warga Ngada kembali ke aslinya dengan menanam uwi (ubi) di seluruh kebun yang ada di seluruh Kabupaten Ngada.

Selain Ritual Reba, ada juga kampung tradisional Bena dan Tololela yang menjadi tujuan wisata. Juga ada kawasan obyek wisata 17 Pulau Riung dengan Komodo Riung yang berada di dalam kawasan 17 Pulau tersebut.

6. Festival Komodo

Festival Komodo digelar di Kabupaten Manggarai Barat. Masyarakat internasional sudah mengenal binatang langka Komodo sebagai salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Manggarai Barat.



Manggarai Barat sebagai salah destinasi unggulan di Provinsi NTT dengan daya tarik binatang Komodo yang langka di dunia. Bahkan, Labuan Bajo sudah ditetapkan menjadi salah satu Badan Otorita Pariwisata di NTT dan sebagai pintu masuk bagi wisatawan  mengunjungi Flores.


Selain binatang Komodo, juga tak kalah menarik adalah obyek wisata bawah laut di Taman Nasional Komodo maupun di luar Taman Nasional Komodo.

7. Festival 1.000 Kuda dan Tradisi Pasola di Pulau Sumba

Festival ini rutin diselenggarakan setiap tahun. Festival Pasola dan 1.000 kuda sandalwood atau kuda sumba sudah menjadi perbincangan wisatawan mancanegara. Bahkan, ada satu hotel terkenal di Pulau Sumba bernama Nihiwatu yang menjadi tempat berlibur orang-orang kaya di dunia.

“Obyek wisata di Nusa Tenggara Timur sangat lengkap dan asli. Ini yang menjadi daya tarik wisatawan. NTT itu, 'Nusa Tradisi Terunik' di dunia. Obyek wisata di Nusa Tenggara Timur sangat kaya dengan berbagai potensi alamiahnya. Semua itu harus dinikmati oleh orang Nusa Tenggara Timur dengan pengembangan homestay. Pariwisata berbasis masyarakat lokal jadi prioritas untuk dikembangkan. Saatnya jangan tinggal diam. Semua kita harus bergerak di seluruh Kabupaten di Nusa Tenggara Timur,” kata Wagub Nai Soi.



Selain 7 festival itu, lanjut Wagub Nai Soi, Kabupaten Nagekeo akan mempersiapkan festival produk-produk lokal, Kabupaten Manggarai akan mempersiapkan Festival Kampung Tradisional Todo, Waerebo dan Ruteng serta Festival Persawahan Jaring Laba-Laba.


Sementara Kabupaten Manggarai Timur siap melaksanakan Festival Danau Teratai dan Komodo Pota.

Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno menjelaskan, NTT sebagai destinasi baru pariwisata. Oleh karena itu masyarakat NTT harus bangkit demi kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Potensi pariwisata harus dikembangkan dan gencar dipromosikan.

“Salah satu daya tarik wisatawan asing dan nusanttaa berkunjung ke Nusa Tenggara Timur adalah toilet di rumah penduduk sangat bersih dan sesuai standar pariwisata. Semua kita bergerak demi kesejahteraan dan kemajuan Nusa Tenggara Timur di masa akan datang. Lembaga perwakilan rakyat Nusa Tenggara Timur mendukung penuh program Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat lokal," katanya.
Dia melanjutkan bahwa kekayaan obyek wisata di Nusa Tenggara Timur harus dinikmati oleh masyarakat itu sendiri.



"Untuk itu, rakyat harus mempersiapkan kamar di rumah masing-masing yang layak dihuni dengan toilet yang bersih. DPRD NTT siap mensahkan anggaran yang diajukan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk pengembangan pariwisata berbasis masyarakat lokal Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.


Pua Geno menambahkan, jika event-event ini sudah memiliki tanggal pelaksanaan yang pasti maka wisatawan mudah mengagendakan perjalanan wisata ke NTT. Agenda wisata di tiap kabupaten di NTT harus ditetapkan secara pasti dan tidak bertabrakan dengan agenda kabupaten lain.
Reaksi:
Kategori: